Senin, 05 Januari 2015

Tunaikanlah Amanahmu, Jauhi Khianat

Tunaikanlah Amanahmu, Jauhi Khianat 

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah atas keutamaan dan kebaikan-Nya. Aku bersyukur kepada-Nya atas taufik dan nikmat-Nya, Dia telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan melarang perbuatan khianat. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang jujur dalam penyampaian dan penjelasan. Shalawat dan salam yang berlimpah dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau yang senantiasa berpegang teguh kepada kejujuran dan agama yang benar.
Amma ba’du,

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa setiap hamba itu memikul amanah antara dia dengan Allah, antara dia dengan pemerintahnya, dan antara dia dengan manusia yang lain. Karenanya hendaknya dia menjadi orang yang terpercaya dan senantiasa menjaga amanahnya.
(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا)
“Sungguh Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah kepada para pemiliknya.” [An-Nisâ`: 58]
Amanah itu sangat banyak lagi berat, dan akan dihisab di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat. Karenanya siapa saja yang menelantarkan amanahnya di dunia lalu dia lolos dari hukuman, maka dia tidak akan lolos dari hukuman Allah di akhirat.
Maka jagalah amanah-amanah kalian dan tunaikanlah ia sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla telah perintahkan kepada kalian. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ* وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan mengkhianati amanah-amanah kalian sementara kalian mengetahui. Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian, dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.” [Al-Anfâl: 27]
Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan amanah ini, agar nampak siapa yang bisa menjaganya dan siapa yang menelantarkan dan meremehkannya.
Amanah sangatlah banyak bentuknya, di antaranya,
Amanah dalam menunaikan pekerjaan yang diamanahkan oleh pemerintah kepada sebagian rakyatnya, baik secara individu maupun perusahaan, maka mereka wajib untuk menjaga amanah tersebut. Siapa saja yang diserahi pekerjaan oleh pemerintah maka itu adalah amanah yang menjadi tanggungannya, hendaknya dia bersegera menunaikannya sebagaimana yang Allah Subhânahu wa Ta’âlâ perintahkan. Hendaknya dia menyucikan dirinya, usahanya, makanannya, dan minumannya dari perbuatan khianat. Amanah adalah ujian dan cobaan, siapa saja yang menjaga dan menunaikannya, niscaya dia akan meraih balasan dari Allah Azza wa Jalla. Dan siapa yang mengkhianatinya maka sebenarnya dia telah mengkhianati dirinya sendiri, karena bahaya khianat akan kembali kepada dirinya dan dia akan dihisab karenanya pada hari kiamat. Karenanya wajib atas setiap orang yang diserahi pekerjaan dan tugas untuk menunaikannya secara lengkap dan sempurna, dan senantiasa menjaga jam kerja resminya. Jangan dia absen kecuali jika ada uzur yang dibenarkan syariat, itupun setelah meminta izin kepada atasannya, agar dia tidak memiliki tanggungan dan selamat dari celaan dan teguran. Jika dia absen dari jam kerjanya, maka itu akan dicatat dan akan diperhitungkan atasnya. Terkadang seseorang sering absen sehingga itu mempengaruhi karir masa depannya, dimana dia bisa dipecat dari pekerjaannya sehingga yang dia dapatkan hanya kemalangan dan kerugian. Jangan kalian menjaga jam kerja karena takut kepada manusia (baca: atasan), namun jagalah ia karena takut kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Karena jika atasanmu tidak mempermasalahkannya atau kamu berdusta kepadanya dalam mengemukakan alasan-alasan, maka sungguh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ tidak akan membiarkanmu tanpa ada hisab dan hukuman.
Demikian halnya bagi orang yang memegang tanggung jawab mengurusi harta kaum muslimin, dia wajib memeliharanya, menjaganya, dan menunaikannya secara lengkap dan sempurna, tanpa korupsi sedikit pun. Orang-orang yang korupsi uang rakyat adalah orang-orang yang melakukan ghulul[1], sementara ghulul adalah salah satu di antara dosa-dosa besar. Karenanya dia wajib untuk menjaga harta yang diamanahkan kepadanya, serta menunaikannya secara lengkap dan sempurna. Jangan dia bergampangan dalam menjaganya dan dalam penyalurannya, karena dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di dunia dan akhirat. Kalaupun dia lolos dari tanggung jawab di dunia, maka dia tidak akan lolos dari hisab di akhirat.
Dahulu ada seorang sahabat yang diserahi tugas, lalu beliau didatangi oleh pemeriksa dan pengawas untuk meminta pertanggungjawabannya. Maka beliau berkata kepada mereka, “Di dunia dipertanggungjawabkan dan di akhirat juga akan dihisab. Tarik kembali tugas yang kalian (serahkan kepadaku).” Beliau lantas mundur dari tugasnya karena takut dihisab.
Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba Allah. Dahulu ada seorang sahabat yang berjihad bersama Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, dan dia adalah seorang yang pemberani dalam medan perang, sampai para sahabat kagum dengannya. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada yang tertimpa ujian yang lebih berat dibandingkan si fulan.” Beliau menjawab, “Dia di dalam neraka.” Maka sahabat bingung dengan sabda beliau sehingga mereka memeriksa barang-barang orang itu. Akhirnya mereka menemukan sebuah jubah hasil mencuri dari ganimah. Mereka kemudian berkata, “Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam telah benar.” Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,
(وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)
“Dan barangsiapa yang melakukan ghulul, dia akan datang dengan membawa barang curiannya pada hari kiamat.” [Âli Imrân: 161]
Dia akan memikulnya di pundaknya walaupun itu seekor unta atau kambing atau harta. Dia akan datang dengan membawanya pada hari kiamat.
(وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ)
“Dan barangsiapa yang melakukan ghulul, dia akan datang dengan membawa barang curiannya pada hari kiamat. Kemudian setiap jiwa akan dipertemukan dengan usahanya, dan mereka tidak akan dizalimi.” [Âli Imrân: 161]
Juga disebutkan dalam sebuah hadits,
“في آخر الزمان تتخذ الأمانة مغنما”
“Pada akhir zaman, amanah akan dijadikan sebagai ghanimah[2].”
Siapa saja yang diserahi tugas untuk mengurusi harta lalu dia menganggap itu sebagai ghanimah, maka dia akan mengambilnya karena dia tidak takut kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
Demikian halnya orang-orang yang mendapatkan kontrak kerja proyek dengan pemerintah, kemudian mereka berkhianat, curang dalam pelaksanaannya, dan melakukan korupsi di dalamnya. Bisa jadi mereka lolos dari jeratan hukum karena suatu sebab seperti menyogok para pengawasnya, sehingga mereka semua bersekutu dalam melaksanakan dosa dan permusuhan. Para pengawas yang memberikan persaksian/bukti (palsu) yang menunjukkan bahwa perusahaan yang curang itu telah menyelesaikan kontrak kerjanya dengan sempurna, mereka semua telah mengkhianati amanah dan kelak mereka akan dihisab akan hal itu. Kalaupun mereka lolos dari hukuman di dunia karena mereka berdusta maka mereka tidak akan lolos di akhirat, karena tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengawasan Allah Jalla wa ‘Alâ. Setiap manusia mempunyai kitab yang di dalamnya tertulis semua amalan dan perbuatannya, dan di antaranya adalah perbuatan mereka yang telah mengkhianati amanah dan juga berbuat curang pada hak-hak orang lain. Hak-hak sesama makhluk tidak akan gugur kecuali jika mereka memaafkan dan mentolerirnya. Maka kalaupun kamu dimaafkan dan ditolerir oleh pengawas, maka rakyat tidak akan memaafkan dan mentolerir perbuatanmu, karena merekalah yang mempunyai hak dalam rencana (pembangunan) itu, dimana engkau dituntut untuk memenuhinya dengan lengkap dan sempurna. Maka orang-orang yang menerima kontrak kerja dari pemerintah dan juga para pengawasnya, hendaknya mereka semua bertakwa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ pada proyek yang diserahkan kepada mereka, dan hendaknya mereka berlaku amanah atasnya. Jangan mereka mengkhianati Allah dan rasul, mengkhianati pemerintah, dan mengkhianati kaum muslimin dengan mengorupsi harta mereka. Mereka wajib bertakwa kepada Allah dan menjalankan pekerjaan mereka sebagaimana yang telah mereka janjikan. Dan bagi para pengawas, hendaknya mereka tidak memberikan persaksian/bukti palsu. Bahkan sepatutnya mereka memberikan persaksian yang benar, apakah perusahaan itu melaksanakan kontrak kerja mereka dengan sempurna atau tidak, dan apakah perusahaan itu sudah mengerjakan proyek tersebut sesuai dengan yang tertulis di kontrak kerja atau belum. Jika mereka (para pengawas) tidak melakukannya, maka mereka akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
“Dan barangsiapa yang melakukan ghulul (korupsi), dia akan datang dengan membawa barang curiannya pada hari kiamat.”
Penerima kontrak yang berkhianat ini akan datang dengan membawa semua harta yang telah dia korupsi dan juga gratifikasi yang dia terima. Dia akan datang pada hari kiamat dengan memanggul semuanya di atas pundaknya, sebagai bentuk penghinaan kepada dirinya dan hukuman untuknya di hadapan Allah dan di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Maka jangan sekali-kali dia berpikir bahwa jika korupsi yang dia lakukan itu tidak diketahui oleh masyarakat maka Allah juga tidak akan mengetahuinya. Dan jangan dia berpikir bahwa jika pengawas telah memberinya persaksian dan rekomendasi (palsu) dalam pekerjaannya, maka dia akan lolos darinya. Karena Allah Al-Malik telah mencatat dan menulis semua pengkhianatannya di dalam lembaran catatan amalannya. Kemudian pada hari kiamat, lembaran catatan itu akan diserahkan kepadanya dan dia akan dihisab sesuai dengan dengan apa yang tertulis di dalamnya. Maka hendaknya bertakwa kepada Allah, mereka yang telah menerima kontrak kerja lalu menganggapnya sebagai kesempatan emas untuk mendapatkan harta, sehingga mereka tidak menunaikannya sebagaimana mestinya, mereka berdusta dan menipu dalam pekerjaannya atau melakukan korupsi di dalamnya. Mereka semua wajib bertakwa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
Demikian pula orang yang diserahi tugas untuk mengurusi uang rakyat, maka dia wajib untuk memeliharanya dengan baik. Siapa saja yang menjadi bendahara negara, maka itu merupakan amanah yang sangat besar. Karena jika engkau mempunyai amanah walaupun hanya sebesar 10 riyal atau kurang daripada itu, maka itu tetap merupakan amanah yang berat. Maka bagaimana lagi dengan orang yang diberikan amanah untuk menjaga jutaan atau bahkan milyaran riyal?! Tidakkah dia takut kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ?!
(وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ* الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ* وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ)
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” [Al-Muthaffifîn: 1-3]
Penerima kontrak kerja ini telah mencurangi takaran dan timbangan pekerjaan proyeknya. Bukan timbangan makanan, melainkan timbangan pekerjaan proyeknya, di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
(أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ* لِيَوْمٍ عَظِيمٍ* يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ)
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” [Al-Muthaffifîn: 4-6]
Maka hendaknya mereka bertakwa kepada Allah. Dan bagi siapa saja yang diserahi tugas untuk melakukan suatu pekerjaan, untuk negara atau untuk individu atau untuk perusahaan atau untuk siapa pun, hendaknya dia menjaganya dan mengerjakannya secara lengkap dan sempurna. Karena jika tidak, maka pada hari kiamat dia akan datang dengan memanggulnya di atas bahunya. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda,
“هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ”
 “Gratifikasi adalah ghulul (baca: korupsi).”
Jika seorang pegawai atau orang yang telah diserahi tugas tertentu diberikan hadiah, maka itu adalah ghulul.
“Gratifikasi adalah ghulul (baca: korupsi),” maksudnya, hadiah yang diberikan oleh orang lain kepada mereka karena mereka mengkhianati amanah, itu adalah ghulul, wal ‘iyadzu billah.
Hendaknya setiap muslim berlaku amanah dalam pekerjaan dan tugasnya. Dia amanah dalam menjaga apa yang diamanahkan kepadanya, dia memeliharanya dengan baik dan menunaikannya secara sempurna, dan tidak berbuat korupsi di dalamnya.
(وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تَعْثَوْا فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ)
“Dan janganlah kalian merugikan orang lain pada hak-hak mereka, dan janganlah kalian merajalela di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Asy-Syu’arâ`: 183]
Betul, mereka ini adalah para perusak. Karenanya lembaga yang bertugas untuk mengawasi tindak pidana pengkhianatan (baca: korupsi) ini dinamakan an-nazâhah (penyucian), karena lembaga ini bertugas untuk menyucikan masyarakat dari pengkhianatan dan pencurian seperti ini, yang sudah menjadi kehidupan mereka sehari-hari.
Wahai hamba Allah, bagaimana bisa koruptor ini memakan harta yang dia korupsi atau sogokan yang diberikan kepadanya. Bagaimana bisa dia memakan harta seperti ini, padahal Nabi shallallâhu alaihi wa sallam telah bersabda tentang seorang lelaki,
” يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ”
 “Yang berada dalam perjalanan panjang, rambutnya dan kakinya berdebu, seraya mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, “Wahai Rabb, wahai Rabb.”
Dia dalam keadaan kesusahan. Beliau shallallâhu alaihi wa sallam melanjutkan,
“وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ”
“Sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, maka bagaimana bisa doanya dikabulkan.”
Maksudnya, doanya tidak akan dikabulkan walaupun dia bersungguh-sungguh dalam berdoa, dalam merendah, dan dalam menampakkan kefakiran dan kebutuhannya kepada Allah, doanya tetap tidak akan dikabulkan. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam juga bersabda,
“كل جسم نبت على السحت النار أولى به”
“Semua tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka pantas baginya.”
Maka mereka yang diuji (oleh Allah) dengan amanah untuk menjaga harta milik rakyat atau milik individu, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah di dalamnya, dan hendaknya mereka memenuhinya secara lengkap dan sempurna agar mereka bisa selamat dari tanggung jawab dan hisab di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Hendaknya mereka tidak berkhianat dalam pekerjaan mereka, tidak melakukan korupsi, dan tidak menampakkan seakan-akan pekerjaan mereka sudah sempurna lalu memuji diri sendiri padahal mereka adalah orang-orang yang curang lagi khianat di dalamnya. Jangan kamu menerima kontrak kerja atau yang semacamnya kecuali jika kamu jujur mampu untuk mengerjakannya dengan benar dan adil. Jika kamu tidak mampu maka tinggalkan pekerjaan itu, lalu carilah rezeki dari pekerjaan yang lain. Jangan kamu ikut-ikutan melakukan apa yang dilakukan oleh banyak orang, dengan alasan bahwa semua orang melakukan hal itu (korupsi, penj) atau si fulan juga melakukan itu. Ingat bahwa kamu akan dimintai pertangungjawaban untuk diri kamu sendiri, karenanya kamu sepatutnya memikirkan keselamatan dirimu sendiri dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang mengkhianati Allah dan rasul, dan mengkhianati amanah mereka sementara mereka mengetahui. Jangan tertipu dengan mereka, karena suatu hari kelak mereka akan berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
(يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ)
“(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” [Al-Muthaffifîn: 6]
Dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban mengenai semua perbuatan mereka, yang rendah maupun yang mulia, yang besar maupun yang kecil.
(مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً)
“Ada apa dengan kitab ini?! Dia tidak menyisakan satu pun amalan yang kecil dan tidak pula yang besar kecuali telah dia kumpulkan. Dan mereka mendapati semua yang telah mereka lakukan ada di hadapan mereka. Dan Rabbmu tidak akan menzhalimi seorang pun.” [Al-Kahfi: 49]
Semoga Allah memberkahi kalian dengan Al-Qur`an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita dengan penjelasan dan dzikir yang penuh kebijaksanaan. Aku ucapkan ucapanku ini seraya aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk semua kaum muslimin dari semua dosa. Karena itu minta ampunlah kalian karena sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua:
Segala pujian hanya milik Allah atas keutamaan dan kebaikan dari-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar-benarnya. Shalawat Allah atas beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, para tabi’in, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan.
Amma ba’du,
Wahai sekalian manusian, bertakwalah kepada Allah Ta’âlâ. Siapa saja yang diserahi pekerjaan atau tugas atau kontrak kerja atau diberikan amanah untuk menangani sesuatu, maka hendaknya dia menjaganya dengan baik dan mengingat akan besarnya tanggung jawab di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ sebelum dia bertanggung jawab kepada manusia. Dia wajib menjaga amanahnya dengan baik.
(وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ)
“Dan mereka adalah orang-orag yang memelihara amanah dan janji mereka.” [Al-Ma’ârij: 32]
Hendaknya dia menjaganya sebagaimana dia menjaga hartanya. Jika ada seseorang yang merampas hartamu tanpa alasan yang bisa dibenarkan, apakah kamu rela dan mendiamkannya ataukah kamu akan mengadu, berusaha menahan, dan melawannya? Bagaimana bisa kamu tidak merelakan pengkhianatan atas dirimu sendiri sementara kamu rela berkhianat kepada orang lain?!
Maka bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba Allah. Siapa saja yang kalian ketahui berkhianat (baca: korupsi) dalam pekerjaannya, atau mengkhianati amanahnya, atau mengkhianati kontrak kerjanya, maka kalian tidak boleh diam terhadapnya.
“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ”
“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka dengan lisannya. Dan jika dia tidak mampu maka dengan hatinya.”
Kamu memang tidak mampu mengubah kemungkaran itu dengan kekuatanmu, akan tetapi kamu bisa melaporkannya kepada pemerintah. Lepaskan tanggung jawabmu dan juga tanggung jawab orang itu, karena diamnya kamu terhadap kemungkarannya akan membahayakan dirinya sebelum membahayakan dirimu sendiri. Karenanya, laporkan dia agar dia bisa bersih dari tindak pidana kriminal yang buruk ini, agar seluruh lapisan masyarakat bisa bersih darinya. Seandainya masyarakat mau saling memberikan nasehat di antara mereka, niscaya tidak akan ada seorang pengkhianat (baca: koruptor) di antara mereka. Namun tatkala masyarakat menyamarkan kemungkaran dan menyembunyikannya, maka pengkhianatan akan tersebar dan merajalela di tengah-tengah mereka, sehingga itu menjadi perbuatan yang mereka sukai.
Sungguh harta itu milik Allah Azza wa Jalla, dan harta itu hanya menjadi amanah dari Allah Azza wa Jalla di sisi kalian, karenanya itu berbuat baik dan jagalah amanah itu. Dan siapa saja yang diserahi tugas untuk menjaganya, maka jangan sampai dia melakukan korupsi. Seorang muslim sepatutnya adalah seorang yang terpercaya dalam mengemban amanah yang dibebankan kepadanya, menjaga amanahnya, dan menyampaikan amanahnya secara lengkap dan sempurna. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda,
“أدي الأمانة إلى من أتمنك ولا تخن من خانك”
 “Tunaikanlah amanah kepada yang memberimu amanah, dan jangan kamu mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu.”
Kaum muslimin wajib untuk membersihkan perbuatan korupsi dan pencurian ini, membersihkan saudara-saudara mereka dengan cara memberikan nasehat dan peringatan atau dengan melaporkannya kepada pihak yang berwajib agar mereka bisa dicegah, sehingga dirinya dan mereka bisa selamat. Karena jika tindak pidana korupsi ini dibiarkan, maka kejahatan ini akan tersebar luas. Namun jika mereka (pelaku korupsi) mengetahui bahwa ada orang-orang yang senantiasa mengawasi tindakan mereka, maka mereka akan berhenti melakukan kejahatan itu. Jika mereka tidak mempunyai keimanan yang bisa mencegah mereka, maka setidaknya mereka akan berhenti melakukannya karena takut hukuman dan takut merasa malu di hadapan masyarakat. Namun jika masyarakat diam saja dan membiarkan mereka menghambur-hamburkan harta kaum muslimin, maka masyarakat akan gemar dan menjadikan tindak pidana korupsi ini sebagai sumber penghasilan dan mereka akan berlomba-lomba melakukannya, koruptor demi koruptor akan bermunculan.
Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah. Bersihkanlah masyarakat kalian dari perbuatan mengkhianati tanggung jawab dan tindakan korupsi. Jagalah amanah-amanah kalian.
(وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ)
“Dan mereka adalah orang-orag yang memelihara amanah dan janji mereka.” [Al-Ma’ârij: 32]
Sifat ini termasuk dari sifat-sifat kaum mukminin yang masuk ke dalam surga.
(أُوْلَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ)
“Mereka itu kekal di dalam surge lagi dimuliakan.” [Al-Ma’ârij: 35]
(أُوْلَئِكَ هُمْ الْوَارِثُونَ* الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ)
“Mereka inilah para pewaris, yang akan mewarisi surge Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Mu`minûn: 10-11]
Wahai hamba Allah, sungguh amanah itu sangat besar. Tidak ada seorang pun yang tidak mempunyai amanah. Jika dia lolos dari amanah yang dibebankan oleh manusia, maka dia tidak akan lolos dari amanah yang Allah Azza wa Jalla bebankan kepadanya dan amanah yang pemerintah bebankan kepada mereka. Karenanya, jadilah kalian sebagai para pemberi nasehat untuk diri kalian sendiri terlebih dahulu kemudian kepada keluarga kalian. Mereka yang melakukan tindak pidana korupsi dan kecurangan pada harta yang diamanahkan kepada mereka, mereka ini telah memberi makan anak-anak mereka, istri-istri mereka, dan tamu-tamu mereka dengan makanan yang haram. Mereka ini (anak, istri, dan tamu, penj.) memang tidak menanggung dosa, karena dosa ditanggung oleh para kepala keluarga, yang telah mengkhianati amanah mereka. Mereka yang menanggung amanah, mereka yang menanggung dosa karena menelantarkan amanah, dan mereka yang menanggung dosa karena telah memberi makan kepada orang lain dari harta yang haram.
Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa tanggung jawab itu merupakan sesuatu yang besar. Bukan hanya kepada manusia atau kepada para pengawas, karena akan selalu ada pengawas atas dirimu yang tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah lalai, dan tidak pernah tidur. Mereka adalah para malaikat pencatat amalan, mereka mengawasi semua amalanmu, menulisnya, dan mencatatnya, dan pada hari kiamat kamu akan menemukannya dalam kondisi yang paling menyusahkan. Kamu tidak akan mampu melepaskan diri darinya atau berdusta tentangnya atau meminta pertolongan untuk lolos darinya.
(يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ* إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ)
 “Hari dimana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali yang mendatangi Allah dengan hati yang selamat.” [Asy-Syu’arâ`: 88-89]
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah. Ketahuilah bahwa ucapan terbaik adalah kitab Allah dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam. Amalan terburuk adalah yang diada-adakan, dan semua bid’ah adalah kesesatan. Wajib atas kalian berkomitmen dengan al-jamaah, karena tangan Allah di atas al-jamaah, dan siapa yang bersendirian maka dia akan sendirian menuju neraka. Siapa yang bersendirian dari al-jamaah maka dia sendiri akan menuju neraka, wal ‘iyadzu billah.
“خَلَعَ رِبْقَةَ الإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ”
“Telah lepas ikatan islam dari lehernya.” Sebagaimana dalam sebuah hadits.
Maka wajib atas kalian untuk selalu berkomitmen dengan jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka, karena itulah jalan keselamatan yang telah dituntunkan oleh Nabi shallallâhu alaihi wa sallam ketika terjadi perselisihan, perpecahan, perseturuan, pergolakan, dan fitnah. Komitmenlah dengan jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka, sebagaimana yang Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam wasiatkan kepada kalian.
(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)
“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan.” [Al-Ahzâb: 56]
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan keselamatan kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya, kepada para tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan. Terkhusus para khalifah yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, dan kepada para sahabat seluruhnya.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslmin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan binasakanlah semua musuh agama-Mu. Jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman lagi tentram. Ya Allah jagalah negeri ini, ya Allah jagalah negeri ini, negeri Al-Haramain yang mulia, tempat kembalinya hati-hati kaum muslimin yang menunaikan haji dan umrah. Ya Allah, jagalah negeri-negeri ini dalam keadaan aman dan tentram. Ya Allah, jagalah negeri-negeri ini dengan penjagaan dari-Mu, lapangkanlah dengan pertolongan dan taufik dari-Mu. Ya Allah, jagalah negeri-negeri kaum muslimin semuanya wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, binasakanlah musuh-musuh agama-Mu, dari kalangan Yahudi, Nashrani, semua orang-orang kafir, kaum musyrikin, orang-orang munafik, dan orang-orang yang murtad. Ya Allah, cerai beraikanlah persatuan mereka dan jadikanlah kebinasaan mereka pada kemunduran mereka, sungguh Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu. Ya Allah, jagalah kami dari gangguan orang-orang kafir, karena Engkau Maha Keras siksa-Nya. Ya Allah, jagalah pemerintah kami. Ya Allah, berikan petunjuk kepada mereka menuju jalan keselamatan. Ya Allah, keluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Ya Allah, jadikan mereka sebagai pemberi petunjuk dan dan orang-orang yang mendapat hidayah, bukan orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Ya Allah, tolonglah agama-Mu melalui mereka, jagalah keamanan kami, keimanan kami, dan ketentraman kami di negeri kami melalui mereka. Janganlah Engkau mengangkat -karena dosa-dosa kami- pemimpin bagi kami, orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami, wahai yang Maha Merahmati, wahai yang Maha Merahmati. wahai yang Maha Merahmati. Wahai yang Maha Hidup, wahai yang memiliki kemuliaan dan keagungan, wahai yang mendengar doa.
(رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)
“Wahai Rabb kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 127]
Wahai hamba Allah,
(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah kalian itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.” [An-Nahl: 90-91]
Ingatlah Allah niscaya Dia akan mengingat kalian, dan syukurilah nikmat-Nya niscaya Dia akan menambahnya. Dan sungguh mengingat Allah itu lebih besar. Dan Allah Maha Mengetahui perbuatan kalian.
[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/15081]
Add to Cart

0 Komentar:

Posting Komentar