Jumat, 25 Mei 2012

7 Golongan Orang-Orang Yang Beruntung


Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat dan keutamaan-Nya akan memberikan naungan kepada sebagian hamba-Nya, pada hari yang sangat panas. Tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya, yakni di padang mahsyar tatkala mereka menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa golongan yang akan mendapatkan naungan-Nya, yaitu naungan ‘Arsy-Nya, adalah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada tujuh golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menaungi mereka di bawah naungan ‘Arsy-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan ‘Arsy-Nya. Mereka adalah (1) imam (pemimpin) yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Rabbnya, (3) orang yang hatinya terkait di masjid, (4) orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik, namun dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (6) orang yang bersedekah namun merahasiakannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan sendirian hingga berlinang air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah SWT di hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya dari naunganNya yakni:

1. Pemimpin yang adil

Pemimpin disini bisa presiden, kepala keluarga, imam shalat, bahkan pemimpin untuk dirinya sendri. Contoh, untuk imam shalat, yang dimaksud imam yang adil adalah tidak membeda-bedakan saat ia sholat sendiri maupun sedang mengimami jamaahnya. Hal ini diartikan untuk bersikap rata dan adil dalam tingkat kekhusyuan shalatnya dan tidak membeda-bedakan panjang pendeknya surat yang dibaca. Sehingga akan terhindar pula dari sifat ria dan ingin dipuji akan setiap amal yang dilakukannya. Maka, memohon dan berlindunglah pula kepada Allah akan buruknya sifat ria yang terkadang dilakukan di luar batas sadar kita.

2. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya

Anak muda yang shalih. Memang ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan bertaqarrub (mendekatkan) diri kepadaNya, berusaha untuk menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan perlindunganNya pada hari kiamat kelak. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang shalih. Ingat, janganlah kita beranggapan bahwa masa muda kita harus dipergunakan untuk hidup senang-senang, beranggapan pula bahwa hanya orang yang telah berlanjut usia saja yang hanya mendekati kematian. Siapa yang bisa menjamin bahwa kematian tidak akan datang pada kaulah muda, sehingga ia beranggapan untuk menghabiskan waktunya saat ini untuk hidup bersenang-senang selagi masih muda.

3. Orang yang hatinya terikat pada masjid

Seseorang yang hatinya selalu terikat pada masjid sehingga menjadikan masjid sebagai tempat yang paling dirinduinya, tempat untuk mencurahkan segalanya kepada Allah SWT, tidak ada hal apapun yang dapat menghalanginya dan keluarganya kecuali keinginan untuk selalu berjamaah di masjid atau musholla, adalah salah satu tanda hati sudah terikat kepada masjid, jadi sudah sewajarnya apabila manusia-manusia yang hatinya selalu terikat pada tempat yang paling dicintaiNya, akan mendapatkan perlindungan di hari akhir. Rindu akan masjid berarti rindu kepada Allah SWT.

4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah SWT

Dua orang insan (sepasang suami isteri) yang saling mencintai karena Allah dan keduanya berkumpul dan berpisah  pula karena Allah. Makna yang didapat adalah kebersamaan dan persahabatan. Kita melakukan sesuatu bersama-sama dengan saudara kita, dan kita melakukannya semata-mata karena mengharap ridha Allah. Saat saudara kita lupa dan ingkar kepada Allah, kita mengingatkannya. Begitu pula sebaliknya, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan saling mengingatkan dan berlomaba untuk melakukan amal shalih. Itu adalah cermin persahabatan yang dirahmati Allah.

5. Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa yang cantik untuk melakukan hal tercela tetapi dia berkata "aku takut kepada Allah"

Mampu melawan beratnya tantangan ketika menghadapi godaan lawan jenis. Hal ini dicontohkan pada saat Nabi Yusuf AS berada dalam istana raja dan mendapat godaan yang luar biasa dari Siti Julaikha, seorang wanita kaya yang sangat rupawan. Nabi Yusuf bermunajat kepada Allah SWT dan berkata ‘lebih baik hidup di penjara dari pada di istana’ karena beliau tahu betapa Allah akan melindunginya di yaumil akhir apabila dapat melawan godaan yang sangat berat itu. Sungguh, Rasulullah pula pernah menegaskan dan menjelaskan bahwa perang yang terbesar adalah perang melawan nafsu dan perang-perang yang pernah beliau lalui bersama para sahabat dan umatnya ketika itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan perang melawan hawa nafsu.

6. Bersedekah tetapi merahasiakannya

Ihklas dalam beramal dan bersedekah seolah-olah tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanan. Jangan bersikap ria dan ingin dilihat orang lain dalam melakukan perbuatan kebaikan, sungguh sia-sialah pahalanya. Semua berawal dari niat, bahkan dalam beramal sekalipun. Dalam hadist Arbain, keutamaan berniat sebelum melakukan amalan ditempatkan pada hadist yang paling pertama. Dilambangkan dalam bersedekah, berusaha agar tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Sungguh luar biasa manfaat dan hikmah di balik sedekah. Janganlah kita enggan untuk mengeluarkan sedikit rejeki kita untuk orang yang membutuhkannya.

7. Dzikrullah di waktu sunyi sehingga mengalir air matanya.

Hal ini mengandung pengertian untuk bertahajud dan berdzikir kepada Allah, terbangun pada tengah malam, berserah diri, merasa dirinya sangat kecil dan tiada artinya di hadapanNya, memohon ampun dan bertafakur (mengingat) dosa-dosa di masa lalu sehingga tak terasa bercucuran air matanya, bertaubat dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah, Insya Allah dijamin perlindungannya di akhir waktu kelak. Sulit memang, terbangun tengah malam untuk bermunajat mengadu padaNya, tapi semoga tulisan ini pula sekaligus menjadi motivasi yang ampuh untuk saya secara pribadi, untuk kita bersama.

Mudah-mudahan kita bisa melakukan amal shalih dengan sebaik-baiknya dari beberapa kriteria yang telah disebutkan dan kita harus berusaha menjadi salah satu dari golongan tersebut. Beramal shalih mengharapkan syafaat Rasulullah SAW dan perlindungan Allah SWT, bahagia di dunia dan akhirat. Amin.


Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ada tujuh golongan yang Allah Azza wa Jalla akan menaungi mereka dalam naungan Arsy-Nya….” (HR. Sa’id bin Manshur, dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 2/144, juga oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Maka, riwayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud naungan-Nya adalah naungan ‘Arsy-Nya, bukan naungan Dzat-Nya, karena hal ini tidak sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Golongan lain yang juga akan mendapatkan naungan Arsy-Nya adalah:
“Barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan (membayar hutang) atau membebaskan (hutang tersebut) darinya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menaunginya dalam Arsy-Nya.” (HR. Muslim no. 3006)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua termasuk golongan mereka.

[Faidah ini diambil dari tulisan Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan dengan judul "Dahsyatnya Mahsyar" dalam majalah Asy Syariah, no. 58/V/1431 H/2010, hal. 23-24]

Add to Cart